Langsung ke konten utama

Postingan

Sekolah knowing vs sekolah being

"Sekolah KNOWING vs Sekolah BEING" Kantor kami, perusahaan PMA dari Jepang, mendapat pimpinan baru dari perusahaan induknya. Ia akan menggantikan pimpinan lama yang sudah waktunya kembali ke negaranya. Sebagai partner, saya ditugaskan untuk mendampinginya selama ia di Indonesia. Saya memperkenalkan kepadanya relasi, dan melihat objek wisata kota Jakarta dan Bandung. Pada saat kami ingin menyeberang jalan, teman saya ini selalu berusaha untuk mencari zebra cross. Berbeda dengan saya dan orang Jakarta yang lain, dengan mudah menyeberang di mana saja sesukanya. Teman saya ini tetap tidak terpengaruh oleh situasi. Dia terus mencari zebra cross ataupun jembatan penyeberangan setiap kali akan menyeberang. Padahal di Indonesia tidak setiap jalan dilengkapi dengan sarana seperti itu. Yang lebih memalukan, meskipun sudah ada zebra cross tetap saja para pengemudi tancap gas, tidak mau mengurangi kecepatan guna memberi kesempatan pada para penyeberang. Teman saya geleng-geleng kep...

Hedonic treadmil

HEDONIC TREADMILL Pertanyaan: Kenapa makin tinggi income seseorang, ternyata makin menurunkan peran uang dalam membentuk kebahagiaan? Kajian-kajian dalam ilmu financial psychology menemukan jawabannya, yang kemudian dikenal dengan nama: “hedonic treadmill”. Gampangnya, hedonic treadmill ini adalah seperti ini : saat gajimu 5 juta, semuanya habis. Saat gajimu naik 30 juta per bulan, eh semua habis juga. Kenapa begitu? Karena ekspektasi dan gaya hidupmu pasti ikut naik, sejalan dengan kenaikan penghasilanmu. Dengan kata lain, nafsumu untuk membeli materi/barang mewah akan terus meningkat sejalan dengan peningkatan income-mu. Itulah kenapa disebut hedonic treadmill: seperti berjalan diatas treadmill, kebahagiaanmu tidak maju-maju. Sebab nafsumu akan materi tidak akan pernah terpuaskan. Saat income 10 juta/bulan, mau naik Avanza. Saat income 50 juta/bulan pengen berubah naik Alphard. Ini mungkin salah satu contoh sempurna tentang jebakan hedonic treadmill. Hedonic t...

Ijazah bukan segalanya

Keberhasilan menuntaskan pendidikan formal dan menggenggam ijazah di tangan memang jadi hal yang membanggakan. Lulus jadi Sarjana, menambah gelar di belakang nama, dipercaya bisa membuka pintu-pintu kesuksesan lainnya. Diterima jadi karyawan di perusahaan ternama, salah satunya. Tapi sementara kita bangga dengan gelar dan ijazah di tangan, ada orang-orang yang menganggap “hanya Sarjana” bukan jadi pencapaian. Mereka mengembangkan kemampuan di luar bidang keahlian, jadi wirausaha demi mengumpulkan pundi keuntungan. Membaca perjuangan dan kisah mereka, kamu akan merasa cuma jadi karyawan belum ada apa-apanya… Determinasi dan pemahaman kuat soal apa yang ingin dicapai jadi penggerak David Karp mencapai kesuksesan. David Karp yang sedari kecil sudah gatal mengulik kode pemograman memutusan untuk tidak menyelesaikan pendidikan SMA-nya. Beruntung, keputusan Karp mendapat dukungan penuh dari kedua orangtua yang sangat suportif. “Pelajaran computer science di SMA saat itu tidak akan menduk...

Kejujuran (kisah idris ayah imam syafi'i)

Seorang pemuda bernama Idris berjalan menyusuri sungai. Tiba-tiba ia melihat buah delima yang hanyut terbawa air. Ia ambil buah itu dan tanpa pikir panjang langsung memakannya.<> Ketika Idris sudah menghabiskan setengah buah delima itu, baru terpikir olehnya, apakah yang dimakannya itu halal? Buah delima yang dimakan itu bukan miliknya. Idris berhenti makan. Ia kemudian berjalan ke arah yang berlawanan dengan aliran sungai, mencari dimana ada pohon delima. Sampailah ia di bawah pohon delima yang lebat buahnya, persis di pinggir sungai. Dia yakin, buah yang dimakannya jatuh dari pohon ini. Idris lantas mencari tahu siapa pemilik pohon delima itu, dan bertemulah dia dengan sang pemilik, seorang lelaki setengah baya. “Saya telah memakan buah delima anda. Apakah ini halal buat saya? Apakah anda mengihlaskannya?” kata Idris. Orang tua itu, terdiam sebentar, lalu menatap tajam. “Tidak bisa semudah itu. Kamu harus bekerja menjaga dan membersihkan kebun saya selama ...

Kisah tamim ad dariy

إِنِّي وَاللَّهِ مَا جَمَعْتُكُمْ لِرَغْبَةٍ وَلَا لِرَهْبَةٍ وَلَكِنْ جَمَعْتُكُمْ لِأَنَّ تَمِيمًا الدَّارِيَّ كَانَ رَجُلًا نَصْرَانِيًّا فَجَاءَ فَبَايَ...

Kisah anas bin malik menangis karena shalat subuh

Anas bin Malik sudah hidup bersama Rosulullah sejak kecil usia 10 tahun. Anas selalu membantu keseharian Nabi Muhammad Shollallaahu 'alayhi wa sallam. Semua sunnah Rosul begitu dipahami oleh Anas bin Malik rodhiyallaahu 'anhu. Sepeninggal Rosulullah, Anas bin Malik pindah ke Bashroh. Sebuah peristiwa besar tepatnya di kota Tustar. Kota ini di bawah pendudukan Persia. Setiap Anas mengingat peristiwa itu, beliau pasti menangis. Ada kisah yang tidak bisa beliau lupakan. Penaklukan kota tersebut tidaklah mudah karena memakan waktu 1,5 tahun untuk mengepungnya. Pada suatu pagi jelang sholat Shubuh (Fajar), kaum muslimin terlibat peperangan sengit. Jumlah pasukan Muslimin hanya sekitar 30.000 melawan 150.000 pasukan kafir. Namun masalah angka bukan indikator kemenangan. Kualitas orang jauh lebih diperhitungkan daripada sekedar jumlah. Hingga kemudian kaum Muslimin berhasil menaklukkan kota tersebut. Namun Anas bin Malik justru menangis, bukan soal kemenangan atau sejenisnya. Melai...

Hikmah dari Ali bin Abi Thalib

‘Ali bin Abi Thalib mengatakan, “Mereka para pendahulu begitu berharap agar amalan-amalan mereka diterima daripada banyak beramal. Bukankah engkau mendengar firman Allah Ta’ala, إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ “Sesungguhnya Allah hanya menerima (amalan) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Ma-idah: 27)” Dari Fudholah bin ‘Ubaid, beliau mengatakan, “Seandainya aku mengetahui bahwa Allah menerima dariku satu amalan kebaikan sebesar biji saja, maka itu lebih kusukai daripada dunia dan seisinya, karena Allah Ta’ala berfirman, إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ ...