Anas bin Malik sudah hidup bersama Rosulullah sejak kecil usia 10 tahun. Anas selalu membantu keseharian Nabi Muhammad Shollallaahu 'alayhi wa sallam. Semua sunnah Rosul begitu dipahami oleh Anas bin Malik rodhiyallaahu 'anhu. Sepeninggal Rosulullah, Anas bin Malik pindah ke Bashroh.
Sebuah peristiwa besar tepatnya di kota Tustar. Kota ini di bawah pendudukan Persia. Setiap Anas mengingat peristiwa itu, beliau pasti menangis. Ada kisah yang tidak bisa beliau lupakan. Penaklukan kota tersebut tidaklah mudah karena memakan waktu 1,5 tahun untuk mengepungnya.
Pada suatu pagi jelang sholat Shubuh (Fajar), kaum muslimin terlibat peperangan sengit. Jumlah pasukan Muslimin hanya sekitar 30.000 melawan 150.000 pasukan kafir. Namun masalah angka bukan indikator kemenangan. Kualitas orang jauh lebih diperhitungkan daripada sekedar jumlah. Hingga kemudian kaum Muslimin berhasil menaklukkan kota tersebut.
Namun Anas bin Malik justru menangis, bukan soal kemenangan atau sejenisnya. Melainkan justru karena ia kehilangan sholat Shubuh. Padahal kondisinya memang sedang perang yang sudah disepakati bahwasanya urusan Sholat boleh diundur sejenak hingga kondisi memungkinkan. Sholat shubuh kala itu baru bisa dilaksanakan tepat saat matahari terbit.
Kondisi tersebut rupanya membuat Anas bin Malik menyesal. Kehilangan sholat Shubuh tepat waktu sekali saja bagi Anas merupakan kerugian besar. Meskipun di sisi lain beliau juga mendapat udzur karena sedang berjihad.
Subhanallah kualitas sahabat Anas bin Malik sepertinya tidak sebanding dengan kondisi pemuda jaman ini.
Komentar
Posting Komentar