Langsung ke konten utama

Pondasi 13 tahun mekah bag. 2

Fase Mekah juga dikenal dengan fase yang banyak berbicara tentang masalah akhirat. Tentang surga neraka, tentang masalah hari kebangkitan, yaumul hisab, dan seterusnya. Hal ini yang harus banyak dibicarakan di mereka, di usia-usia awal atau pada mereka yang baru belajar Islam. Sedangkan pembicaraan tentang hukum muamalah, beberapa hukum ibadah, bahkan hukum yang terlihat menakutkan-huduud-(yaitu hukuman dalam Islam) apapun bentuknya: cambuk, potong tangan, penggal kepala, diasingkan, dibuang, dan seterusnya, hukuman-hukuman itu baru dibahas nanti di Madinah ketika memang muslimin telah siap.

Maka kalau ada anak kita, atau ada orang yang baru belajar Islam, lalu tiba-tiba diajak berbicara tentang khilafiyah hukum, ini bukan merupakan cara yang bijak untuk belajar mendalami Islam. Karena khawatir mereka akan merasakan betapa tidak nyamannya Islam, betapa tidak nikmatnya Islam. Padahal Islam ini sangat nikmat. Islam ini adalah anugerah. Islam adalah sebuah kenikmatan. Ini baru bisa dirasakan bagi mereka yang memang memiliki pondasi yang cukup seperti Nabi yang diberi Allah ayat-ayat Al-Qur’an di fase Mekah.

Fase Mekah juga dikenal fase yang banyak berbicara tentang sekitar kita. Ini (hampir) tidak ada di Madinah. Fase Mekah banyak bicara tentang alam sekitar. Tentang matahari, bulan, langit, bumi dan yang ada di bumi, gunung, sungai, air, tumbuhan, binatang, dan seterusnya. Karena kita akan lebih mudah belajar ketika mengamati sekeliling kita. Karena itu terlihat betul (nyata) di sekeliling kita. Kita diminta untuk membahas tentang alam dan yang lainnya di sekitar kita. Lagi, ini kesalahan kurikulum kita hari ini. Anak-anak belajar IPA, biologi, geologi, astronomi, atau yang lainnya tapi sayangnya hanya berbicara tentang proses alam itu. Seakan kita tidak punya Allah.

Mana kurikulum Islam? Mana pendidikan Islam yang katanya menerapkan konsep Islam? Lihatlah Al-Qur’an, kita lihat ayat dalam Surat Qaaf.

“Dan kami turunkan dari langit air yang diberkahi.”
Bicara tentang hujan, air yang diberkahi dari langit adalah hujan.

“yang dengannnya Kami tumbuhkan kebun-kebun dan biji-bijian yang dipanen.”
Ayat ini bicara tentang masalah hujan dan fungsinya.

Masih bicara fungsi, tapi Allah mulai memberikan dengan sentuhan khusus, agar kita juga belajar lebih dalam yaitu tentang masalah “an-nakhl”, yaitu tentang pohon kurma. Ada apa dengan pohon kurma? Maka seharusnya ilmuwan Muslim hadir untuk melakukan penelitiannya. Pohon-pohon kurma yang mayang-mayangnya terlihat. Ini adalah fungsi bagaimana secara khusus Allah bicara tentang pohon kurma.

“… sebagai rizqi bagi hamba”
Ada sentuhan lain. Bicara tentang hujan, kemudian menumbuhkan, Allah berikan sentuhan “ini rizqi bagi hamba”. Semestinya rasa syukur hadir di hati kita kita kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Betapa tidak ada yang bisa menurunkan hujan kecuali Allah. Dan ternyata Allah memberikan itu sebagai rizqi bagi kita semuanya.

“Dan kami hidupkan negeri setelah matinya.”
Dan ini lagi-lagi tentang rizqi bagi kita.

“… begitulah nanti hari kebangkitan, hari semua dikeluarkan dari kuburnya masing-masing.”
Ada poin berikutnya, ini poin mahal. Setelah kita belajar hujan dan fungsinya, dan kita bersyukur, tiba-tiba ayat melompat, menyadarkan kita bahwa proses hujan yang menumbuhkan adalah proses yang sama dengan proses kebangkitan nanti. Bayangkanlah ketika bicara hujan langsung bersambung dengan iman pada hari akhir.

Di mana kurikulum pendidikan? Di mana konsep parenting hari ini yang menghadirkan konsep bicara tentang sekitar tapi dengan gaya seperti Al-Qur’an? Maka pantas saja dulu Al Qur’an menghasilkan orang hebat. Dan pantas kurikulum hari ini tidak melahirkan orang-orang yang beriman.

Ini adalah contoh-contoh pada fase Mekah, fase yang dilalui oleh Nabi Salallahu’alaihi Wassalam dengan penuh perjuangan.

Perjalanan kehidupan Nabi penuh dengan gangguan, dan bersabar selama 13 tahun membangun pondasi, merahasiakan kajian-kajian beliau, kemudian beliau terus bergerilya membaca Al-Qur’an, membuka hati manusia-manusia yang jahiliyah, dan sombong itu dengan izin Allah Subhanahu Wata’ala. Hingga mereka mendapatkan hidayah. Perjuangan yang disokong penuh oleh orang yang dicintainya. Istri yang tak pernah ada penggantinya, Khadijah ra.

Mudah-mudahan ada yang bisa kita ambil hikmahnya. Agar kita bisa menyiapkan lebih baik lagi. Insyaa Allah kita akan pelajari lebih detail lagi tentang bagaimana persiapan itu dengan izin Allah Subhanahu Wata’ala. Agar kita bisa membawa tinggi risalah Islam, seluruh beban Islam ini dengan penuh kenikmatan hingga Islam mencapai kebesarannya.

Wallahu a’lam bishawab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Abu dhom dhom

Dia bukan orang yang terkenal. Ketika namanya pertama disebutkan oleh Nabi Muhammad saw, para sahabat asing dengan namanya. “Siapa dia, Ya Rasulallaah?” tanya mereka. Para sahabat penasaran dengan sosok yang baru pertama kali disebutkan Nabi saw itu bukan karena namanya yang asing. Tetapi mengapa malaikat begitu kagum kepada orang ini. “Tidak bisakah seseorang dari kalian bersikap seperti Abu Dhomdhom. Dia dikagumi malaikat di hadapan Allah swt” ujar Nabi saw saat itu. Setiap pagi Abu Dhomdhom sedekah dengan sesuatu yang tak lazim, tak biasa. Rupanya ini kunci kekaguman malaikat kepadanya. “Dia shalatnya biasa saja seperti kalian, tapi di pagi hari, ” jelas Nabi saw,” Abu Dhomdhom berucap, Ya Allah aku sedekahkan kehormatanku untuk kaum muslimin. Maka siapa saja yang mengejekku, menggunjingku, menyakitiku atau berbuat buruk kepadaku, sungguh aku telah memaafkannya di dunia ini. Aku tidak akan menuntutnya atas hakku kelak di akhirat” O...

Peran sekolah dalam mendukung perkembangan sosial anak

Sekolah merupakan lembaga pendidikan yang tidak hanya fokus pada akademik, tetapi juga berperan penting dalam mendukung perkembangan sosial anak. Perkembangan sosial anak sangat penting untuk membentuk individu yang seimbang, mandiri, dan berkontribusi pada masyarakat. Peran Sekolah dalam Perkembangan Sosial Anak 1. Mengembangkan Kemampuan Sosial: Sekolah membantu anak mengembangkan kemampuan sosial seperti berkomunikasi, berbagi, dan bekerja sama. 2. Membentuk Karakter: Sekolah membentuk karakter anak melalui nilai-nilai seperti empati, toleransi, dan kesabaran. 3. Mengembangkan Keterampilan Emosi: Sekolah membantu anak mengenali, mengelola, dan mengungkapkan emosi secara sehat. 4. Membangun Hubungan: Sekolah memfasilitasi hubungan antara anak, guru, dan orang tua, membantu anak membangun jaringan sosial. 5. Mengembangkan Kemandirian: Sekolah mendorong anak untuk mengambil keputusan dan bertanggung jawab atas tindakannya. Strategi Sekolah dalam Mendukung Perkembangan Sosial 1. Pendidi...

Perkembangan kemampuan berpikir logis pada anak usia dini

Kemampuan berpikir logis merupakan salah satu aspek penting dalam perkembangan kognitif anak. Anak usia dini (0-8 tahun) memerlukan stimulasi yang tepat untuk mengembangkan kemampuan ini. Artikel ini akan membahas cara mengembangkan kemampuan berpikir logis pada anak usia dini. Tahapan Perkembangan 1. Usia 0-3 tahun: Anak mulai mengembangkan kemampuan memahami kausalitas dan hubungan sebab-akibat. 2. Usia 4-6 tahun: Anak memahami konsep klasifikasi dan pengelompokan. 3. Usia 7-8 tahun: Anak mengembangkan kemampuan berpikir logis dan memahami konsep causa-efek. Cara Mengembangkan Kemampuan Berpikir Logis 1. Bermain dengan balok dan puzzle: Meningkatkan kemampuan memahami hubungan antara bagian dan keseluruhan. 2. Menggunakan contoh nyata: Menggunakan contoh sehari-hari untuk mengajarkan konsep causa-efek. 3. Mendorong eksplorasi: Memberikan kesempatan anak untuk menjelajahi lingkungan dan memahami kausalitas. 4. Mengajarkan konsep klasifikasi: Mengajarkan anak untuk mengelompokkan benda...