Langsung ke konten utama

Hadits dha'if

Hadits dha'if
a.       Pengertian hadits dha’if
Hadits dha’if ialah:
ماَ فَقِدَ شَرْطًا أَوْ اَكْثَرَ مِنْ شُرُوْطِ الصَّحِيْحِ أَوِ الْحَسَنِ.
Artinya: “Ialah hadits yang kehilangan satu syarat atau lebih dari syarat-syarat hadits shahih atau hadits hasan.”
Ta’rifnya dapat disusun: “Hadits Dha’if itu ialah satu hadits yang terputus sanadnya, atau di antara rawi-rawinya ada yang bercacat.” Hadits dha’if banyak ragamnya dan mempunyai perbedaan derajat satu sama lain, disebabkan banyak atau sedikitnya syarat-syarat hadits shahih atau hasan yang tidak dipenuhinya. Al ‘Iraqi membagi hadits dha’if menjadi 42 bagian dan sebagian ulama lain membaginya menjadi 129 bagian.

b.      Ciri-ciri hadits dha’if
a)      Putus sanadnya. Hadits yang teranggap lemah karena putus (gugur, tidak tersebut) sanadnya ada 9 macam, dan masing-masing mempunyai nama tersendiri.
b)      Tercacat seorang rawi atau beberapa rawinya. Sebagaimana hadits yang putus sanadnya, begitu juga hadits lemah karena rawi-rawinya itu, ada beberapa macam bagian yang masing-masing juga mempunyai nama tersendiri.

c.       Contoh hadits dha’if
قَالَ أَبُو عِيسَى وَقَدْ رُوِيَ عَنْ عَائِشَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ صَلَّى بَعْدَ الْمَغْرِبِ عِشْرِينَ رَكْعَةً بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّة[2]
Artinya: “Berkata Abu ‘Isa: Dan sesungguhnya telah diriwayatkan dari ‘Aisyah, dari Nabi SAW. Beliau bersabda: “Barangsiapa shalat sesudah Maghrib, dua puluh raka’at, Allah akan mendirikan baginya sebuah rumah di syurga.”
Gambaran sanad hadits di atas:
1        Abu Isa (=Turmudzi)
2        ’Aisyah
3        Rasulullah SAW
Turmudzi tidak bertemu dan tidak sezaman dengan ’Aisyah. Jadi tentu antara kedua-duanya itu ada beberapa orang rawi lagi. Karena disebut rawi-rawinya ini, maka dinamakan gugur, seolah-olah hadits itu tergantung. Karena itulah dinamakan Mu’allaq. Setiap hadits Mu’allaq hukumnya lemah, tidak boleh dipakai. Oleh sebab itu, hadits tersebut tidak boleh dipakai.[24]

Peringkat kualitas kitab hadits
Berdasarkan persyaratan-persyaratan yang ditentukan untuk sebuah hadits shahih, kitab hadits memiliki tingkat keshahihan yang berbeda-beda.

a.       Peringkat pertama
Jumhur ulama mendudukkan kitab Shahih Al Bukhari dan Shahih Al Muslim pada peringkat pertama, dengan menempatkan Shahih Al Muslim di bawah Shahih Al Bukhari. Akan tetapi ada pula yang menempatkan Shahih Al Muslim di tempat pertama dengan alasan bahwa Shahih Al Muslim memiliki sistem yang memudahkan suatu istimbat. Kendati demikian hipotesis ini tidak harus mengantarkan pada kesimpulan bahwa Shahih Al Muslim memiliki derajat keshahihan yang lebih tinggi ketimbang Shahih Al Bukhari. Alasan penerapan urutan seperti itu, lebih didasarkan pada nilai-nilai praktis yang dimiliki oleh kedua kitab Shahih tersebut. Dengan demikian, kedua kitab ini secara bersama-sama menempati posisi paling puncak dalam deretan kitab-kitab hadits. Sebagian ulama menambahkan bahawa Al Muwatta’ karya Imam Malik ibn Anas menempati jajaran kedua dalam peringkat ini, dengan urutan Al Bukhari, Muslim dan Al Muwatta’.

b.      Peringkat kedua
Peringkat kedua ditempati oleh kitab-kitab yang sekalipun tidak mencapai standar keshahihan kitab-kitab shahih terdahulu, ditulis oleh orang-orang yang tidak meringankan persyaratan-persyaratan bagi diri mereka dalam menyeleksi hadits-hadits yang mereka himpun dalam kitab-kitab mereka, dan lebih dari itu, bersama-sama kitab Bukhari dan Muslim, karya-karya mereka dijadikan rujukan oleh para ulama sesudahnya dalam beristimbat, baik untuk prinsip-prinsip akidah maupun syari’ah, misalnya Jami’at Tirmidzi, Sunan Abu Dawud, Mujtaba An Nasa’i dan Sunan ibn Majah. Meskipun sebagian ulama juga mengakui bahwa kumpulan hadits Ibn Majah tidak sekritis lima kumpulan lainnya dalam Kutub As Sittah. Karena itu, sebagian ulama menggantinya dengan Al Muwatta’ karya Imam Malik dan Al Musnad karya Ahmad ibn Hambal.

c.       Peringkat ketiga
Peringkat ketiga ditempati oleh kitab-kitab hadits yang memuat banyak hadits dha’if, baik yang syaz, munkar maupun mudtarib, di samping kurang jelasnya ihwal para rijalnya, misalnya: Musnad ibn Abi Syaiban, Musnad At Tayalisi, Musnad Abd ibn Hamid, Musannaf Abd Razzaq, kitab-kitab hadits Al Baihaqi, At Tabrani dan At Tahawi. Kitab-kitab jenis ini sulit dijadikan rujukan, kecuali oleh orang-orang yang telah betul-betul mendalami ‘Ulum Al Hadits.

d.      Peringkat keempat
Pada peringkat ini ditemukan kitab-kitab hadits yang amat rendah kualitasnya bila dibandingkan dengan kitab-kitab sebelumnya. Umumnya, kitab-kitab yang masuk peringkat ini disusun oleh ulama-ulama yang menerima hadits dari para tukang cerita (qassas), para sufi (mutasawwifah), para penulis buku (mu’arrikhin) yang tidak memenuhi persyaratan sebagai perawi-perawi yang adil, para pelaku bid’ah dan orang-orang yang berbicara atas dorongan nafsunya, di antaranya: kitab-kitab hadits susunan Ibn Mardawaih, Ibn Syahin dan Abu Asy Syaikh.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Abu dhom dhom

Dia bukan orang yang terkenal. Ketika namanya pertama disebutkan oleh Nabi Muhammad saw, para sahabat asing dengan namanya. “Siapa dia, Ya Rasulallaah?” tanya mereka. Para sahabat penasaran dengan sosok yang baru pertama kali disebutkan Nabi saw itu bukan karena namanya yang asing. Tetapi mengapa malaikat begitu kagum kepada orang ini. “Tidak bisakah seseorang dari kalian bersikap seperti Abu Dhomdhom. Dia dikagumi malaikat di hadapan Allah swt” ujar Nabi saw saat itu. Setiap pagi Abu Dhomdhom sedekah dengan sesuatu yang tak lazim, tak biasa. Rupanya ini kunci kekaguman malaikat kepadanya. “Dia shalatnya biasa saja seperti kalian, tapi di pagi hari, ” jelas Nabi saw,” Abu Dhomdhom berucap, Ya Allah aku sedekahkan kehormatanku untuk kaum muslimin. Maka siapa saja yang mengejekku, menggunjingku, menyakitiku atau berbuat buruk kepadaku, sungguh aku telah memaafkannya di dunia ini. Aku tidak akan menuntutnya atas hakku kelak di akhirat” O...

Perkembangan kemampuan berpikir logis pada anak usia dini

Kemampuan berpikir logis merupakan salah satu aspek penting dalam perkembangan kognitif anak. Anak usia dini (0-8 tahun) memerlukan stimulasi yang tepat untuk mengembangkan kemampuan ini. Artikel ini akan membahas cara mengembangkan kemampuan berpikir logis pada anak usia dini. Tahapan Perkembangan 1. Usia 0-3 tahun: Anak mulai mengembangkan kemampuan memahami kausalitas dan hubungan sebab-akibat. 2. Usia 4-6 tahun: Anak memahami konsep klasifikasi dan pengelompokan. 3. Usia 7-8 tahun: Anak mengembangkan kemampuan berpikir logis dan memahami konsep causa-efek. Cara Mengembangkan Kemampuan Berpikir Logis 1. Bermain dengan balok dan puzzle: Meningkatkan kemampuan memahami hubungan antara bagian dan keseluruhan. 2. Menggunakan contoh nyata: Menggunakan contoh sehari-hari untuk mengajarkan konsep causa-efek. 3. Mendorong eksplorasi: Memberikan kesempatan anak untuk menjelajahi lingkungan dan memahami kausalitas. 4. Mengajarkan konsep klasifikasi: Mengajarkan anak untuk mengelompokkan benda...

Hubungan antara aktivitas fisik dan perkembangan kognitif pada anak

Perkembangan kognitif anak sangat penting dalam proses tumbuh kembangnya. Aktivitas fisik telah terbukti memiliki dampak positif pada perkembangan kognitif anak. Artikel ini akan membahas hubungan antara aktivitas fisik dan perkembangan kognitif pada anak. Manfaat Aktivitas Fisik bagi Perkembangan Kognitif 1. Meningkatkan Kemampuan Memori : Aktivitas fisik meningkatkan aliran darah ke otak, sehingga memperbaiki kemampuan memori. 2. Mengembangkan Kemampuan Konsentrasi : Aktivitas fisik membantu anak fokus dan konsentrasi. 3. Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis : Aktivitas fisik memicu kemampuan berpikir kritis dan logis. 4. Mengurangi Risiko Gangguan Kognitif : Aktivitas fisik dapat mengurangi risiko gangguan kognitif seperti ADHD dan disleksia. Jenis Aktivitas Fisik yang Baik untuk Perkembangan Kognitif 1. Olahraga Berkelompok : Sepak bola, basket, dan voli. 2. Aktivitas Outdoor : Berjalan, berlari, dan bersepeda. 3. Senam dan Yoga : Meningkatkan keseimbangan dan fleksibilitas. 4. P...