Langsung ke konten utama

Hadits shahih

Hadits shahih menurut muhaditsin:
ماَ نَقُلَهُ عَدْلٌ تَامُ الضَّبْطِ مُتَّصِلُ السَّنَدِ غَيْرُ مُعَلَّلٍ وَلاَ شَاذٍّ.
Artinya: “Hadits yang dinukil (diriwayatkan) oleh rawi yang adil, sempurna ingatan, sanadnya bersambung-sambung, tidak ber’illat dan tidak janggal.”[4]

Hadits shahih adalah hadits yang diriwayatkan oleh orang-orang kepercayaan, kuat ingatannya dengan sempurna, bersambung-sambung sanadnya, bersambung-sambung mulai dari awal sampai Nabi (musnad), tiada bercacad dan tiada syadz atau tiada bertentangan dengan hadits yang sudah dipandang kuat.[5]

b.      Ciri-ciri hadits shahih
Dari definisi atau pengertian hadits shahih yang disepakati oleh mayoritas ulama hadits di atas dapat dinyatakan, unsur-unsur kaedah mayor dan minor keshahihan sanad hadits:[6]
Berdasarkan pendapat jumhur ulama hadits
Unsur kaedah mayor
Unsur kaedah minor
A)      Sanad bersambung.
1)  Muttasil (mawshul)
2)  Marfu’
B)      Periwayat dalam sanad bersifat adil.
(pendapat ulama beragam dan dapat dikompromikan menjadi):
1)      beragama Islam
2)      mukallaf
3)      melaksanakan ketentuan agama Islam
4)      memelihara muru’ah
C)      Periwayat dalam sanad bersifat dhabith.
1)      Hafal dengan baik hadits yang diriwayatkannya
2)      Mampu dengan baik menyampaikan hadits yang dihafalnya kepada orang lain tanpa kesalahan
D)      Sanad hadits itu terhindar dari syudzudz.
Riwayat seorang periwayat yang siqat tidak bertentangan dengan riwayat para periwayat yang siqat lainnya.
E)      Sanad hadits itu terhindar dari ‘illat.
Tidak terjadi:
1)      Periwayat yang tidak siqat dinilai siqat
2)      Sanad terputus dinilai bersambung
Dengan demikian, suatu sanad hadits yang tidak memenuhi kelima unsur tersebut adalah hadits yang kualitas sanadnya tidak shahih.

c.       Contoh hadits shahih
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ ح و حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ نَافِعٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ص قَالَ إِذَا كَانُوا ثَلاَثَةٌ فَلاَ يَتَنَاجَى اثْنَانِ دُونَ الثَّالِثِ[7]
Artinya: “(Kata Bukhari): Telah menceritakan kepada kami, ‘Abdullah bin Yusuf, (ia berkata) telah mengkhabarkan kepada kami, Malik dari Nafi’, dari Abdullah bahwa Rasulullah SAW. bersabda: “Apabila mereka itu bertiga orang, janganlah dua orang (dari antaranya) berbisik-bisikan dengan tidak bersama yang ketiganya.”

Hadits di atas dikatakan shahih karena dari susunan sanad Riwayatnya seperti ini:
1        Bukhari
2        Abdullah bin Yusuf
3        Malik
4        Nafi’
5        Abdullah (yaitu Ibnu Umar)
6        Rasulullah SAW.

Sanad Riwayat ini bersambung dari No. 1 sampai No. 6, dan rawi-rawinya orang-orang kepercayaan dan dhabith dengan sempurna. Hadits ini tidak terdapat syu-dzudz-nya, yaknitidak menyalahi hadits yang derajatnya lebih kuat dan tidak ada illatnya, yaitu kekeliruan, kesalahan dan lain-lain yang menyebabkan hadits itu tercela. Maka hadits tersebut mempunyai syarat-syarat sebagai-mana tertera dalam makna (ta’rif) shahih yang saya cantumkan di atas.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Abu dhom dhom

Dia bukan orang yang terkenal. Ketika namanya pertama disebutkan oleh Nabi Muhammad saw, para sahabat asing dengan namanya. “Siapa dia, Ya Rasulallaah?” tanya mereka. Para sahabat penasaran dengan sosok yang baru pertama kali disebutkan Nabi saw itu bukan karena namanya yang asing. Tetapi mengapa malaikat begitu kagum kepada orang ini. “Tidak bisakah seseorang dari kalian bersikap seperti Abu Dhomdhom. Dia dikagumi malaikat di hadapan Allah swt” ujar Nabi saw saat itu. Setiap pagi Abu Dhomdhom sedekah dengan sesuatu yang tak lazim, tak biasa. Rupanya ini kunci kekaguman malaikat kepadanya. “Dia shalatnya biasa saja seperti kalian, tapi di pagi hari, ” jelas Nabi saw,” Abu Dhomdhom berucap, Ya Allah aku sedekahkan kehormatanku untuk kaum muslimin. Maka siapa saja yang mengejekku, menggunjingku, menyakitiku atau berbuat buruk kepadaku, sungguh aku telah memaafkannya di dunia ini. Aku tidak akan menuntutnya atas hakku kelak di akhirat” O...

Perkembangan kemampuan berpikir logis pada anak usia dini

Kemampuan berpikir logis merupakan salah satu aspek penting dalam perkembangan kognitif anak. Anak usia dini (0-8 tahun) memerlukan stimulasi yang tepat untuk mengembangkan kemampuan ini. Artikel ini akan membahas cara mengembangkan kemampuan berpikir logis pada anak usia dini. Tahapan Perkembangan 1. Usia 0-3 tahun: Anak mulai mengembangkan kemampuan memahami kausalitas dan hubungan sebab-akibat. 2. Usia 4-6 tahun: Anak memahami konsep klasifikasi dan pengelompokan. 3. Usia 7-8 tahun: Anak mengembangkan kemampuan berpikir logis dan memahami konsep causa-efek. Cara Mengembangkan Kemampuan Berpikir Logis 1. Bermain dengan balok dan puzzle: Meningkatkan kemampuan memahami hubungan antara bagian dan keseluruhan. 2. Menggunakan contoh nyata: Menggunakan contoh sehari-hari untuk mengajarkan konsep causa-efek. 3. Mendorong eksplorasi: Memberikan kesempatan anak untuk menjelajahi lingkungan dan memahami kausalitas. 4. Mengajarkan konsep klasifikasi: Mengajarkan anak untuk mengelompokkan benda...

Hubungan antara aktivitas fisik dan perkembangan kognitif pada anak

Perkembangan kognitif anak sangat penting dalam proses tumbuh kembangnya. Aktivitas fisik telah terbukti memiliki dampak positif pada perkembangan kognitif anak. Artikel ini akan membahas hubungan antara aktivitas fisik dan perkembangan kognitif pada anak. Manfaat Aktivitas Fisik bagi Perkembangan Kognitif 1. Meningkatkan Kemampuan Memori : Aktivitas fisik meningkatkan aliran darah ke otak, sehingga memperbaiki kemampuan memori. 2. Mengembangkan Kemampuan Konsentrasi : Aktivitas fisik membantu anak fokus dan konsentrasi. 3. Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis : Aktivitas fisik memicu kemampuan berpikir kritis dan logis. 4. Mengurangi Risiko Gangguan Kognitif : Aktivitas fisik dapat mengurangi risiko gangguan kognitif seperti ADHD dan disleksia. Jenis Aktivitas Fisik yang Baik untuk Perkembangan Kognitif 1. Olahraga Berkelompok : Sepak bola, basket, dan voli. 2. Aktivitas Outdoor : Berjalan, berlari, dan bersepeda. 3. Senam dan Yoga : Meningkatkan keseimbangan dan fleksibilitas. 4. P...